Ataxia
Sporadis
“Langit itu berwarna biru”.
“Tidak, berwarna violet Rega”.
“Kenapa bisa begitu, kau lihat bayangan di air itu, biru Yui”.
“Kau bodoh sekali. Lihatlah, warnanya sangat jelas, Jika kau sering
melihat langit berwarna biru di berbagai tempat, tapi di Okinawa berbeda, Rega”.
“Kau yang aneh, Okinawa dan tempat lainnya sama-sama berada di bumi
Yui. Dengar, sinar matahari memang terdiri atas bermacam-macam warna cahaya yang
berbeda. Tapi karena unsur-unsur yang
ada di atmosfer (terutama NO2 dan O2) itulah yang menyebabkan atmosfer
bumi dengan mudah menghamburkan spektrum warna biru, ungu, dan nila yang
mempunyai frekuensi tinggi, tetapi warna biru-lah yang paling banyak
menyebar, ditambah lagi mata manusia lebih sensitif terhadap warna biru
daripada warna nila dan ungu.
“Baiklah, terserah kau saja. Tapi akan aku katakan pada Tuhan agar mengecatnya
dengan warna violet”.
Mereka tertawa bersamaan di
tengah keindahan musim semi. Yui tau hari ini adalah terakhir kali mereka memperdebatkan
langit Okinawa. Rega akan pulang ke Amerika. Dan dia akan terjebak dalam sebuah
pilihan. Diaroma Okinawa telah menyatu dalam dirinya. Sakura, Ume, pantai yang
indah, dan Akizora yang menawan. Ahh.. hidup di Amerika tentu sangat berbeda pikirnya.
Tapi kakeknya telah mengizinkan untuk tinggal bersama Rega di Amerika karena sebuah
alasan. Yui keluarga satu-satunya yang dimiliki Prof. Kohito, dan karena itulah
Prof. Kohito berharap penuh kepada Rega untuk membuat cucu tunggalnya selalu
bahagia. Apapun..! demi hidup gadis pecinta langit itu.
٭٭٭
Confectionary Heaven,
07 march 2011
“Apakah aku
harus melihatmu sibuk dengan tumpukan buku-buku tebal itu setiap hari, Rega?”
Yui
menyandarkan dagu ke lututnya, ia terduduk lesu di tepi jendela.
“Maafkan aku
Yui, tapi ini penemuan besar dan aku tidak akan melewatkannya”.
“Tapi terakhir
kali kau janji akan mengajakku berkeliling Massachusetts”.
“Aku tidak
akan melupakan janji itu Yui”. Balas Rega, lalu mengajak Yui untuk melihat
hasil penelitiannya di layar monitor.
“Lihat, ini
adalah molekul tunggal di dekat gen yang disebut "Period 1".
Molekul ini berbasis adenina (A) dan guanina
(G) yang keduanya merupakan... “. Perkataan Rega terhenti ketika yui menolak
untuk melihat penemuannya.
“Sudahlah Rega.. aku tak akan mengerti
hal seperti itu, aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku dengan hal yang
menyenangkan”. Yui memalingkan pandangannya dari layar Monitor.
“Setidaknya, selagi aku masih bisa merasakannya”. Ujarnya lirih.
Ada butiran bening di sudut matanya. Dan Rega akan sangat sedih
jika melihat Yui menangis. Suasana ruangan itu hening untuk beberapa detik,
hanya ada cahaya berkedip dari Mouse komputer.
“Yui, aku melakukan ini karena aku mencintaimu.. Percayalah”. Rega
menggeser tumpukan buku kedokteran dari
tangannya. Ia menatap kekasihnya. Sorot mata itu.. yah tatapan mata itu yang
membuat Rega terus berusaha mencari solusi penderitaan Yui. Ia tak mau
kehilangan pemilik binar bening itu.
“Aku tau kau mengidap penyakit Ataxia Sporadis. Sudah lama aku dan
Prof. Kohito melakukan penelitian mengenai penyakit itu. 37 bulan.. dan itu
kulakukan sejak aku mengenalmu. Aku akan terus berusaha untuk hidupmu Yui”.
Wanita yang dicintai Rega ini masih memasang mata sayu. Ia
menyadari, Penyakit syaraf bernama Spinocerebellar
Degeneration yang di sebut Rega tadi sudah menumpang di tubuhnya lebih dari 9 tahun. Ia seringkali kehilangan
kendali terhadap syaraf-syaraf motoriknya dan lebih parah dari itu.
“Maafkan aku, Rega. Tapi aku rindu bersandar dibawah pohon sakura,
langit musim gugur disana pasti sangat indah”. Yui mengembangkan secuil senyum,
Meski tak begitu sempurna. Matanya mengarah ke langit Massachusetts.
Rega terpaku menatap kekasihnya, satu bulan terakhir ini ia telah
membiarkan wanita yang cantik itu menikmati langit sendirian. Tenggorokakannya
serak, “Yui.. gadis Jepang itu”.
٭٭٭
Confectionary Heaven,
24 agust 2011
Prof. Kohito
terbang ke Amerika.
Selain
mengunjungi cucu kesayangannya, ia juga ingin mengetahui lebih jelas mengenai
penemuan terbaru yang dilansir di website Dailymail bulan lalu.
Tim peneliti dari Beth Israel Deaconess Medical Center (BIDMC) di
Boston Massachusetts menyambut antusias kedatangan Profesor berkacamata bulat ini.
Namun ia terlihat mencari seseorang ditengah belasan ilmuan yang
ada dalam ruangan. Tak terlihat wajah Rega disana, Prof. Kohito tahu betul jika
Rega adalah salah satu peneliti disini.
Tapi dimana Pria itu”. Pikir
Profesor sambil menebarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan.
“Selamat datang profesor”. Sambut seorang pria bermata biru di
sampingnya.
“Aha.. disini kau rupanya Rega Clarkwisht Edelson”.
“Sudah lama menunggu profesor?”
“Sepuluh menit yang lalu, bagaimana dengan penemuan kalian?”
Rega berjalan ke sebuah ruangan khusus di depannya. Prof. Kohito
mengikuti dari belakang.
Ruangan itu penuh dengan komputer, grafik-grafik yang menempel di
dinding, tabung reaksi dan beberapa tiruan organ manusia.
“Rupanya anda sudah mengetahui kabar penemuan itu profesor”.
“Yah.. Tidak buruk, bukan?”.
“Awalnya kami hanya ingin meneliti Ataxia Sporadis yang diderita
Yui, tapi kami menemukan hasil ilmiah ini”. Ujarnya tanpa komando.
Rega segera menuju ke sebuah monitor. Mengotak-atiknya dan..
“Lihat profesor, ini adalah variasi gen pada manusia. Disini ada
molekul tunggal yang disebut "Period 1". Molekul ini berbasis adenina
(A) dan guanina
(G) yang keduanya merupakan dua basa nitrogen purina yang menyusun DNA dan RNA.
“Lalu apa hubunganya dengan penentu waktu kematian yang saya baca
di situs internet itu?”
“Ohh..Begini profesor, Gen dengan molekul tipe A ini cenderung
lebih banyak ditemukan dengan rasio dari enam berbanding empat. Oleh karena
setiap manusia memiliki dua set kromosom, menurut perhitungan dari data yang
kami peroleh, setiap individu berpeluang 36 persen memiliki gen dengan tipe
molekul AA, 16 persen peluang memiliki tipe G, dan 48 persen peluang memiliki
tipe gabungan antara A dan G. Nah.. seseorang yang mempunyai gen AA cenderung akan
bangun secara alami sekitar satu jam lebih awal dibandingkan dengan orang
bertipe GG. Adapun mereka yang memiliki gen AG cenderung bangun tepat di
tengah-tengah antara waktu AA dan GG. Maka dapat disimpulkan bahwa mereka yang
mempunyai gen AA atau AG rata-rata meninggal sesaat sebelum pukul 11.00 pagi,
sedangkan mereka dengan tipe GG cenderung meninggal sesaat sebelum pukul 06.00
sore”.
“Sukkoi! Jenius
sekali. Saya tidak pernah memikirkan ini sebelumnya”. Sambut
Prof. Kohito
sambil menampakkan barisan giginya.
“Dan jam biologis internal mengatur banyak aspek biologis serta
perilaku manusia. Hal itu juga memengaruhi terjadinya peristiwa medis akut
seperti stroke dan serangan jantung”. Tambah profesor Kohito menimpali.
“Tepat sekali profesor!”
“Yah baiklah, ini adalah penemuan hebat. Saya pikir akan sangat
membantu dunia medis dalam menangani pasiennya”. Puji pria berkumis tipis itu.
“Sekarang mari kita minum kopi di luar, aku ingin sekali mendengar
cerita-cerita dari pemuda jenius sepertimu”. Sambungnya.
“Kafein kopi tidak baik untuk jantung anda profesor”.
“Hahaha.. baiklah, bagaimana jika minum teh bersama Yui”. Mereka
tertawa bersamaan lalu beranjak ke apartemen Rega , 12 km dari Gedung Neurologi
BIDMC. Dua pria itu terlihat akrab di tengah perjalanan. Jelas saja, karena
mereka mempunyai hati yang sama terhadap Yui.
٭٭٭
Inilah sebabnya
mengapa aku mencintaimu.
Karena selalu
ada waktu yang kau sisihkan untukku meski hanya sedetik.
Ditengah
kesibukan yang merubahmu menjadi berbeda.
Namun di waktu
yang lain kau tunjukan manisnya perhatianmu.
Kita memang tak
pernah lagi mempermasalahkan warna langit.
Tapi aku
seringkali menyapa langit yang berbeda warna disini,
Aku tersenyum..
karena ku sadari mereka biru, bukan Violet seperti kataku.
Yui masih sibuk memotret beberapa
objek indah di kota Cambridge, Massachusetts.
Sementara Prof. Kohito dan Rega tengah membicarakan hal penting. Terlihat dari
wajah serius kedua pria ini. Terkadang salah satu pria itu memandang Yui, dan
kembali sibuk dengan pembicaraannya.
“ Bagaimana dengan kondisi Yui sekarang, Rega?”. Tanya profesor
Kohito ditengah pembahasan ilmiah yang mereka bicarakan.
“Dia terlihat sedih, aku sering meninggalkannya karena penemuan
baruku ini, tapi sekarang ia bisa tersenyum melihat Cambridge..”. Rega menelan
ludah lalu tersenyum.
“Aku sangat berharap kau bisa membantuku Rega, buat dia bahagia. Aku
tidak ingin kehilangan satu-satunya keluargaku Setelah Tuhan mengambil istri , anak dan
menantuku”. Ujarnya di sela-sela pembicaraan.
“ Hanya Yui yang tersisa, dan ia sudah menemaniku selama 19 tahun”.
Sambung Prof. Kohito. Rega tidak berani menimpali. Cukup lama lelaki bertubuh
gemuk itu menerawang tanpa arah yang tepat.
“Pro..fe..sor.are you fine?
Profesor..?”. ulang Rega
lagi.
“ Hah.. oh tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Tapi Yui dan Ataxia
itu..”. Prof. Kohito kembali termenung.
“Yui pasti akan sembuh. Lihatlah, sudah 3 tahun ia lolos dari
prediksi kematiannya dan dia baik-baik saja. Hanya..”. Ujar Rega terhenti.
“Hanya apa? Hanya saja terkadang ia tiba-tiba jatuh tanpa sebab dan
kehilangan pengendalian syaraf motoriknya? Jika aku bisa memilih, aku ingin
sekali penyakit Yui berpindah ke tubuhku”. Pria berusia 62 tahun ini menangis
sesenggukan.
Cukup lama bereka terdiam. Tiba-tiba profesor angkat bicara.
“Rega.. bagaimana jika kalian meneliti gen dalam tubuh Yui? Aku
bukan mengharapkan kematiannya, tapi hanya ingin bertindak sigap saat ia
benar-benar butuh pengawasan”.
“Profesor..? Kita tidak akan kehilangan Yui, pasti ada obat
untuknya, gen penentu kematian itu.. kita akan mencobanya”.
“Mencobanya.. yah itu akan
sedikit membantu. Ohh ada air mata di pipiku”. Ujarnya mengusap pipi keriput
miliknya.
“Sebaiknya aku harus terlihat bahagia saat didekatnya”. Pria
berkacamata itu merapikan jas.
“Rega.. Kakek.. berpose yang
bagus, biar aku foto..”. Teriak Yui dari kejauhan.
Yui....gadis itu terlihat kuat,
padahal tubuhnya begitu rapuh.
٭٭٭
Confectionary Heaven,
02 february 2012
“Rega.. Rega!! Dimana Yui, apa dia bersamamu?”.
“Tidak Profesor, di musim dingin seperti ini aku tidak akan berani
mengajak Yui keluar rumah”.
“Tapi Yui tidak ada!”.
“Apa!! Baiklah, aku pulang sekarang.” Ponsel dimatikan, dan
pemiliknya segera berhambur keluar ruangan.
Keadaan menegang setelah
dua jam Yui tidak ditemukan, Profesor Kohito sangat cemas. Rega berusaha
meminta bantuan teman-temannya untuk mencari Yui. Mereka bertindak cepat.
Beberapa ilmuan dari Kantor Neurologi ikut serta dalam pencarian.
Yui hilang? Tidak pernah terpikir sedikitpun. Rega menelfonnya
berulangkali, namun masih sama. Beberapa rekannya mengaku tidak menemukan gadis
Jepang itu. Tapi satu informasi, seorang nenek melihatnya ada di Cambridge.
“Tempat yang kita kunjungi dua bulan lalu profesor”. Buru Rega.
Rega dan Profesor Kohito masuk ke mobil, sebenarnya ia tidak yakin
mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi 180 km/jam. Tapi Yui tidak akan bisa
menunggu lama jika terjadi apa-apa.
Langit dimusim dingin terlihat
monoton! Tak ada keindahan seperti musim-musim lain.
Tapi salju yang turun membuatnya
cantik, seolah menaburi kita dengan serbuk gula yang manis.
“Yui!! Yui..! kau tidak apa-apa, Yui.. bangunlah!”.
Gadis bernama Yui itu tergeletak di atas salju, tubuhnya tak
bergerak oleh guncangan kedua tangan Rega.
Wanita bertubuh mungil ini semakin tidak beradaya saja dihadapan Rega.
Kulitnya membiru oleh dinginnya salju Cambridge.
“Woke up Mrs. Yui, don’t leave me please!”.
Aku tidak benar-benar pergi, hanya
sedikit lelah dan ingin tidur sebentar dari sakit yang aku rasakan.
Massacusets General Hospital tampak lengang.
Profesor Kohito belum juga keluar dari ruangan dokter spesialis syaraf.
“Ada sekelompok besar orang yang memiliki gejala Ataxia yang
biasanya dimulai di masa dewasa dan yang tidak memiliki riwayat keluarga yang
dikenal dari penyakit ini. Ini disebut Ataxia Sporadis dan bisa sulit
untuk mendiagnosa”. Dr. Geonal Cd tampak menunjukkan hasil Rotgen kepala Yui
kepada pria gemuk berkacamata bulat itu.
“Ataxia Sporadis dapat berupa “cerebellar murni” jika hanya otak yang
terpengaruh atau serebelum ditambah, dan akan menimbulkan gejala tambahan
seperti neuropati disfungsi saraf perifer, kekakuan atau kelemahan, demensia,
gangguan fungsi intelektual atau kekejangan otot-otot. Bentuk ataksia
serebelar ditambah sporadis juga dikenal sebagai Ataxia Olivopontocerebellar Sporadis
(OPCA sporadis) atau atrofi sistem multi jenis serebelum (MSA-C). Dan yang
diderita cucu anda sudah mencapai ataxia akut Profesor. Penyakit ini menyerang
jaringan otak kecil dan syaraf tulang belakangnya”. Tambahnya lagi.
“Apakah sampai detik ini belum ditemukan solusinya dokter?”.
“Maaf profesor, penyakit ini belum ada obatnya, kita hanya dapat
mencegahnya dengan beberapa terapi, tapi terapi ini akan menimbulkan efek
serius pada jaringan otaknya. Seperti kesulitan berfikir atau mengingat
sesuatu.
“Berikan yang terbaik untuknya dokter, saya percaya pada anda. Dia
anak yang kuat, Seharusnya sudah 3 tahun yang lalu dia pergi, tapi ia berjuang
keras untuk hidupnya”. Prof. Kohito mengerutkan keningnya lalu berpamitan pada
pemilik ruangan itu.
٭٭٭
Para ilmuan Amerika sudah meneliti susunan Gen pada tubuh Yui,
gadis itu memiliki susunan gen AG. Berarti jika keadaannya semakin kritis dan
tidak ada pertolongan yang bisa dilakukan. Ia akan meninggal sesaat sebelum
pukul 11.00 pagi. Kepala Rega berdenyut.
“Yui.. aku tau kau sedang berjuang keras saat ini. Aku tau kau
sedang berperang pada tubuhmu sendiri. Tapi kau harus tau.. ada aku yang
mengharapkan kesembuhanmu setiap hari sayang”. Rega memandang kekasihnya yang
terbaring lemah.
“Kau benar, langit itu berwarna violet dan aku sudah meminta Tuhan
untuk merubahnya menjadi warna kesukaanmu itu”. Ia menghela nafas.
“Bangunlah Yui.. akan ku ajak kau kembali ke Okinawa, aku janji...
Oh ya, aku dengar tempat itu semakin indah. Pantai yang sering kita
kunjungi itu sekarang kesepian tanpa kehadiranmu. Bangunlah Yui.. kita akan
bangun negeri langit disana”. Rega tersandar lemas, tak ada perubahan
sedikitpun pada kekasihnya. Berhari-hari, berbulan-bulan. Hingga....
Setumpuk harapan dan janji takkan
merubah keadaan, hanya tindakan dan sebuah keajaiban yang merubahnya menjadi
kenyataan.
Confectionary Heaven,
29 june 2012
Rega masih
mengendarai mobilnya, ada seikat bunga sakura putih disampingnya. Ponselnya
berdering, Prof. Kohito.....
“Hallo
Profesor”.
“Ya Rega, ada
berita baik. Ini keajaiban luaar biasa!! Yui sudah sadar dan keadaannya mulai
membaik, dia membutuhkanmu. Aku harap kau segera kemari”.
“Benarkah? thanks
God, aku segera kesana profesor. Bilang pada Yui 5 menit lagi”. Rega tersenyum
dan menambah kecepatan mobilnya. Fikirannya hanya terfokus pada Yui, kekasihnya
telah melewati masa kritis.
“Yui..Yui..
akan kutepati janji-janji itu, akan kubawa kau kelangit Violetmu”. Ujarnya tak
hentinya bergumam. Makin lama kecepatan mobilnya semakin bertambah. Awalnya
tidak ada masalah, tapi tiba-tiba ia hilang kendali. Remnya tidak berfungsi!
Rega semakin panik. Dan...
“Aaaargh..!!”
Sebuah truk
menabraknya dari arah kanan. Bagian depan mobil hancur total dan terseret 4
meter dari lokasi kejadian. Beberapa orang histeris, dan sebagiannya berhambur
ke mobil Rega.
“Yui...”.
ucapnya terakhir kali. serak lalu gelap.
Di Massacusets General Hospital..
Profesor Kohito tidak tau pasti apakah ini adalah
hasil panjang atau sebuah keajaiban. Ia menatap lekat cucu tunggalnya. Ahh..
lama sekali ia tidak melihat Yui membuka mata. Wajahnya masih pucat. Tapi tetap
cantik. Kombinasi antara Agata Kohitokori dan menantunya Sayaka Ama melahirkan
keindahan yang natural pada diri Yui. Sorot matanya...bibirnya.. alis matanya..
Pria tua itu melirik arloji di tangannya, sudah
lebih dari 30 menit. Rega tak juga muncul. “Kemana anak itu?”. Pikirnya.
“K-a-k-e-k”.
Yui mencoba berbicara, meski agak sulit terdengar oleh Prof. Kohito.
“Iya Hana
bi..”. (panggilan kecil Yui)
“Ka-k-ek..
Re-ga di-m-a-n-a?”.
“Dia sedang
menuju kesini sayang, sabar ya.. 5 menit lagi.”
“Yui t-i-d-a-k
bisa menunggu, s-a-m-p-a-i-kan pada Rega.. Yui akan pergi”.
“Tidak Yui,
tidak.. kau akan sembuh, bukankah kau berjanji akan bersama kakek sampai
kapanpun”.
“Ti-dak b-i-s-a
kek”.
“Bertahanlah
Hana bi”.
“Sam-pai-kan
kek, maaf tidak bisa lebih lama bersama kakek. Yui akan menemui ibu dan ayah”.
“Yui...
Gadis itu hanya membalasnya dengan senyuman. Ia tau
ini adalah akhir dari perjuangannya. Setelahnya tak akan ada penderitaan.
Setelahnya tak akan ada obat, terapi dan rasa sakit. Bahagia.. tanpa ada penyakit
yang menyiksanya.
Confectionary Heaven
telah usai.
Karena Yui
lebih dulu menutup hidupnya sebelum mengetahui apa yang terjadi pada
kekasihnya. 1 jam setelah kepergiannya, Prof. Kohito mendapat berita bahwa Rega
tewas akibat kecelakaan, dua hal yang tidak bisa diterima oleh pria tua ini.
Yui dan
Rega....
“Tuhaaaan”. Pekiknya
tertahan
Tak akan ada lagi dua pemuda yang mengisi
hari-hari Prof’ Kohito.
Pria jenius dan
wanita tangguh.
Mereka hanya
tau bahwa pusaranya bersisian.
“Setidaknya
dengan seperti ini mereka tidak merasa kehilangan”. Pikir Profesor Kohito. .
“Langit itu
biru kan Rega?”.
“Bukankah kau
ingin dia berwarna Violet?”.
“Tidak, dia
biru! karena itu hukum alam. Atmosfer bumilah yang menyebabkannya berwarna
biru, bukan begitu?”.
“Ya,tapi aku
sudah meminta Tuhan menggantinya dengan warna violet, bagaimana?”.
“Haha.... apa
kau yakin Tuhan mengabulkan doa mu?”.
“Ya.. karena
Tuhan mengabulkan doaku untuk terus bersamamu.
“Bagaimana
dengan Ataxia itu?”.
“Ahhh...”.